Sudah menjadi suatu keharusan bagi para jemaah umroh Indonesia yang hendak pulang ke tanah air melalui Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk berbelanja terlebih dahulu di Kawasan Komersial Corniche /Corniche Commersial Center (CCC), yang terletak di Distrik Al-Balad. Namun tidak banyak yang “aware”, bahwa selain kawasan komersilnya, Al-Balad juga menyimpan kekayaan dan pesona sejarah yang tinggi hingga kemudian didaulat oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia (The World Heritage Sites) pada tahun 2014. Bahkan hampir seluruh area dari Al-Balad mengandung nilai sejarah sehingga disebut juga sebagai “Open Air Museum”-nya Jeddah.

Kementrian Pariwisata Kerajaan pun sedang gencar – gencarnya untuk melakukan revitalisasi terhadap bangunan-bangunan bersejarah yang terdiri dari rumah, masjid, dan benteng yang memiliki gaya arsitektur sangat khas dan “instagramable banget”. Bangunan-bangunannya telah berumur ratusan, bahkan ribun tahun. Sehingga sayang sekali jika dilewatkan begitu saja kesempatan untuk “berbelanja oleh-oleh kenangan” di Al-Balad, The Historic District of Jeddah. Berikut beberapa lokasi yang sempat penulis kunjungi.

1. Bait Al-Nasseef

IMG-20180813-WA0038

Pembangunan Bait Al-Nasseef / Rumah Nasseef adalah sebuah rumah mewah yang dibangun untuk Omar Nasseef Efendi, anggota keluarga pedagang kaya yang juga merupakan gubernur Jeddah pada saat itu. Pembangunannya memerlukan waktu 9 tahun, yakni dimulai pada 1872 dan selesai pada 1881.

Rumah tersebut tersusun atas 7 lantai yang terdiri dari 106 kamar, dengan arsitektur seni yang mengagumkan, kombinasi pengaplikasian kayu, batu dan kaligrafi tulisan arab. Desain bangunannya lebih dipengaruhi oleh gaya seni ottoman turki yang memang pada saat itu masih berkuasa.

IMG-20180813-WA0042

Rumah tersebut juga terkenal dengan sebutan “The House with The Tree”, karena satu-satunya pohon berjenis Azadirachta Indica, berhasil tumbuh rumah tersebut. Sementara ditempat lainnya sangat sulit menumbuhkan pohon mengingat kondisi ikli yang ekstrim. Usia dari pohon tersebutpun ditaksir kurang lebih sama dengan rumah nasseef itu sendiri.

Pada bulan Desember 1925, Bait Al-Nassef ditempati oleh Raja Pertama Saudi, Abdul Aziz Bin Saud, setelah ia dan pasukannya berhasil merebut kota Jeddah, yang terkenal dengan peristiwa Siege of Jeddah.

Karena kemewahannya, Bait Al-Naseef kerapkali dipakai para bangsawan untuk bersosialisasi. Hingga akhirnya pada tahun 1975, Muhammad Nasseef mengubahnya menjadi perpustakaan pribadi dengan jumlah koleksi yang tidak kurang dari 16.000 buku. Namun saat ini buku-buku tersebut telah dimiliki dan dikelola oleh perpustakaan pusat Universitas King Abdulaziz Jeddah.

IMG-20180813-WA0052

Bagi para jemaah yang berminat mengunjungi Bait Al-Naseef ini, lokasinya cukup dekat dengan corniche commercial center, bahkan bangunan – banguan rumah tua disekitarnya, yang memiliki arsitektur seragam, dijadikan oleh pemiliknya sebagai kios – kios yang menawarkan berbagai macam oleh-oleh khas saudi. Sehingga para jemaah tidak kehilangan kesempatan untuk berbelanja sekaligus berwisata budaya.

2. Masjid Syafi’i (Ancient Mosque)

IMG-20180813-WA0021

Tidak jauh dari Bait Al-Naseef, Masjid Syafi’i berlokasi di Mazloum Lane. Masjid ini dianggap sebagai salah satu situs sejarah utama di pusat Al-Balad.

Masjid Syafi’i dibangun oleh Raja Muzaffar Suleiman bin Saad Eddin Shahinshah II, dari dinasti Ayyub di Yaman pada tahun 1250 Masehi. Raja tersebut mengikuti Madzhab Syafi’i, atas dasar itulah masjid ini diberi nama. Namun demikian, berdasarkan penelitian, beberapa bagian daripada Masjid ini justru telah ada sejak jaman Khalifah Ummar Bin Khatab, atau sekitar 1.386 tahun yang lalu.

Masjid sempat diperbaharui pada tahun 1533 M oleh seorang pedagang India bernama Khawaja Muhammad Ali, tetapi pekerjaan renovasi tidak mencakup menara masjidnya, sehingga masih terjaga ke-autentikan-nya. Pada tahun 2011, Almarhum Raja Abdullah bin Abdul Aziz memerintahkan masjid untuk direnovasi kembali. Pekerjaan renovasi dilakukan sesuai standar UNESCO dan berhasil mengungkap sejumlah artefak arkeologi, seperti mihrab yang diperkirakan berusia mendekati 1.400 tahun, sedangkan bagian menara diperkirakan telah berusia 900 tahun.

IMG20180813181053.jpg

Saat ini, Masjid Syafi’i sudah dapat dipergunakan kembali oleh masyarakat setempat untuk shalat berjamaah, bahkan berdasarkan keterangan penduduk setempat, masjid syafi’i kerap juga dikunjungi oleh para Habaib seperti Habib Umar, Habib Ali Al-Jufri, Habib Abu Bakar Al-Adni, dll.

3. Bait Al-Balad

IMG-20180813-WA0059

Bait Al-Balad dibangun pada awal abad ke-20. Menurut penduduk setempat, rumah tersebut dibangun oleh seorang nelayan yang mengumpulkan cangkang dan karang dari Laut Merah. Pada masa itu, Bait Al-Balad digunakan untuk menjadi markas legasi Inggris di Jeddah dari sekitar 1915 hingga pertengahan 1930-an.

Bait Al Balad saat ini menjadi museum yang menyimpan artefak, foto, dan efemera yang mendokumentasikan sejarah Jeddah. Strukturnya mencirikan bangunan khas arsitektur tanah Hijaz yang berwarna krem.

Keunikan lainnya adalah dibagian depan Bait Al Balad terdapat taman yang ditumbuhi rumput hijau dengan banyak burung merpati yang mencari makan diatasnya, membuat suasana kota tua ini menjadi lebih unik.

4. Benteng Jeddah

gerbang-makkah-berada-di-kawasan-padat-penduduk-kota-jeddah-_170701134547-423

Pada masa kepemimpinan Kerajaan Ottoman inilah Jeddah mulai dibangun, termasuk membangun tembok sebagai benteng perlindungan dari serangan portugis di beberapa kawasan pintu masuk Jeddah yang masih terkenal hingga sekarang. Benteng memiliki 2 gerbang utama, 1 gerbang berada dari arah Makkah dan satu lagi dari arah laut. Benteng tersebut memiliki 6 menara, setiap menara memiliki lebar 16 dzira’, kamudian dibuatlah 6 gerbang lainnya, yaitu; Gerbang Makkah, Gerbang Madinah, Gerbang Syarif, Gerbang Jadid (Baru), Gerbang Punt dan Gerbang al-Magharibah yang merupakan gerbang tambahan yang baru dibangun pada awal abad ini.

Setelah kerajaan Ottoman jatuh pada tahun 1915, tembok-tembok kokoh pun ikut runtuh. Namun sisa-sisa peninggalan masa kejayaan Turki di Jeddah masih terlihat sampai hari ini. Yaitu perkampungan tua di tengah kota Jeddah, berupa rumah dari tanah dan karang dihiasi balkon kayu, merupakan satu-satunya peninggalan arsitektur tradisional Hijaz atau Semenanjung Arab bagian barat.

Lokasi dari satu pintu ke pintu lainnya cukup berjauhan, sehingga cukup sulit bila ingin menyaksikan seluruh pintu benteng dengan keterbatasan waktu yang ada. Sebagai alternatif, kita dapat mengunjungi salah satu pintu, yakni Babul Jadid, yang letaknya tidak terlalu jauh dari Masjid Syafi’i dan kawasan komersil Corniche.

Walaupun bernilai sejarah, sangat disayangkan penataan lingkungan pintu benteng-benteng tersebut belum diperhatikan sebagai sebuah objek wisata, sehingga sering kali terlihat mobil-mobil parkir berserakan disekitar pintu benteng.

Demikian beberapa lokasi bersejarah yang dapat menjadi alternatif tujuan wisata di distrik Al-Balad. InsyaAllah saya akan ulas beberapa objek wisata populer yang berlokasi sekitar Distrik Al-Balad, diantaranya Masjid Qisos, Makam Siti Hawa, dan Kawasan Komersial Corniche.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s