????????????????????????????????????

Bismillaahi wasshalaatu wassalaam ala rasulillaah..

Hal yang banyak ditanyakan ketika terkumpul dua hari raya (dalam hal ini hari raya idul fithri dan hari jum’at), bagi yang melaksanakan shalat idul fitri, apakah tetap wajib melaksanakan shalat jum’at, ataukah cukup melaksanakan shalat zuhur, terdapat dua pendapat dalam menjawab persoalan tersebut.

A. Pendapat Yang Tetap Mewajibkan Shalat Jum’at

Berikut kami kutip tulisan dari Ustad Yuana Ryan Tresna (Pengajar Ma’had Khadimmus Sunnah) mengenai argumentasi madzhab syafi’i bahwa shalat jum’at tidak gugur secara mutlak karena bersamaan dengan hari raya idul fitri atau idul adha.

Perbedaan pendapat antara Imam-imam Madzhab dalam masalah ini, terletak pada aspek penggalian masing-masing pada hadits Nabi berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ. رواه أبو داود

وَفِيْ رِوَايَةٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَم قَالَ: صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ. رواه الخمسة إلا الترمذي

Maksud kedua hadits tersebut adalah: karena pada hari itu terjadi dua hari raya (Yaumul Jum’at dan Yaumul ‘Ied), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersilahkan bagi orang-orang yag telah menunaikan shalat ‘Ied, jika ia menghendaki (مَنْ شَاءَ) untuk tidak mengikuti shalat Jum’at.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang dimaksud dengan kata مَنْ شَاءَ dalam hadits tersebut? Apakah ditujukan kepada semua hadirin yang melaksanakan shalat ‘Ied atau ditujukan kepada sebagian hadirin?

Mengenai hal ini, Imam Syafi’i menerangkan dalam kitab Al-‘Umm, dan Imam al-Baihaqi meriwayatkan di dalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar bahwa Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ia berkata:

أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بن مُحَمَّدٍ قال أخبرنا إبْرَاهِيمُ بن عُقْبَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ: اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: من أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ فَلْيَجْلِسْ في غَيْرِ حَرَجٍ.

Artinya: Telah berhimpun dua hari atas pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang suka untuk duduk (tidak shalat Jum’at) bagi ahlul ‘aliyah (penduduk desa/pedalaman), maka tetaplah duduk tanpa menanggung dosa”.

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِيْ عُبَيْدٍ مَوْل

ىَ ابْنِ أَزْهَرَ قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مع عُثْمَانَ بن عَفَّانَ فَجَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ فقال إنَّهُ قد اجْتَمَعَ لَكُمْ في يَوْمِكُمْ هذا عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ من أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ فَلْيَنْتَظِرْهَا وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَلْيَرْجِعْ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ.

Artinya: Dari Abu Ubaid, ia berkata: “Aku menyaksikan shalat ‘id bersama Sayyidina Utsman bin Affan, beliau datang kemudian shalat, lalu ia pindah dan berkhutbah, ia berkata: “Sesungguhnya telah berkumpul bagi kalian pada hari ini yaitu dua hari raya, maka barang siapa dari ahlul ‘aliyah (penduduk desa/pedalaman) yang suka untuk menunggu shalat Jum’at maka menunggulah, dan barang siapa yang ingin kembali (ke desanya), maka kembalilah, sungguh aku mengizinkannya”.

Pada kedua riwayat tersebut bisa dipahami bahwa pemberian rukhsah/dispensasi untuk tidak melaksanakan shalat itu tidak ditujukan kepada semua orang yang hadir, akan tetapi hanya ditujukan kepada ahlul aliyah (penduduk kampung yang jauh dari tempat shalat ‘Ied).

Kemudian didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar disebutkan juga bahwa Imam Syafi’i berkata di dalam satu riwayat Abu Sa’id:

“Tidak boleh ini diterapkan pada seorang penduduk kota, dan hadits harus dibawa atas pengertian bagi orang yang hadir shalat ‘Ied dari selain penduduk kota, mereka boleh kembali/ pulang ke desa mereka jika mereka mau dan tidak kembali (ke kota/masjid) untuk shalat Jum’at, dan sebuah pilihan bagi mereka untuk tetap bertahan hingga shalat Jum’at jika mereka mampu”.

Lebih jelas lagi, Imam Nawawi dalam kitab Syarh Muhadzdzab menerangkan:

وَإِنِ اتَفَقَ يَوْمُ عِيْدٍ وَيَوْمُ جُمْعَةٍ فَحَضَرَ أَهْلُ السَّوَادِ فَصَلَّوْا الْعِيْدَ جَازَ أَنْ يَنْصَرِفُوْا وَيَتْرُكُوْا الْجُمْعَةَ لِمَا رُوِيَ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ فِيْ خُطْبَتِهَ: “أَيُّهَا النَّاسُ قَدِ اجْتَمَعَ عِيْدَانِ فِيْ يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَنَا الْجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَنْصَرِفْ” وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ أَحَدٌ (قَوْلُهُ السَّوَاد) هُمْ أَهْلُ الْقُرَى وَالْمَزَارِعِ حَوْلَ الْمَدِيْنَةِ الْكَبِيْرَةِ (قَوْلُهُ أَهْلِ الْعَالِيَةِ) قَالَ الْجَوْهَرِيْ: الْعَالِيَةُ مَا فَوْقَ نَجْدٍ إِلَى أَرْضِ تِهَامَةَ وَإِلَى وَرَاءِ مَكَّةَ وَهُوَ الْحِجَازُ وَمَا وَالاَهَا. (قَالَ الشَّافِعِيُّ) وَلاَ يَجُوْزُ هَذَا لأَحَدٍ مَنْ أَهْلِ الْمِصْرِ أَنْ يَدَعُوْا أَنْ يَجْتَمِعُوْا إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ يَجُوْزُ لَهُمْ بِهِ تَرْكُ الْجُمْعَةِ وَإِنْ كَانَ يَوْمَ عِيْدٍ.

Artinya: Apabila hari raya betepatan dengan hari Jum’at, maka penduduk kampung yang jauh dari tempat shalat ‘Ied yang telah hadir untuk melaksanakan shalat ‘Ied boleh kembali ke kampungnya, tidak perlu mengikuti shalat Jum’at. Diriwayatkan dari sayyidina Utsman ra beliau bekata dalam khutbahnya: “Wahai manusia, pada hari ini terjadi dua hari raya, maka barang siapa di antara penduduk kampung yang jauh dari tempat shalat ‘Ied ini menghendaki ikut shalat Jum’at, silahkan dan barang siapa yang pulang ke kampungnya silahkan ia pulang.” Terhadap kata-kata sayyidina Utsman ini tidak seorangpun sahabat yang mengingkarinya. Kata “as-sawad” artinya: penduduk perkampungan dan persawahan di sekitar kota besar (“al-aliyah”). Imam Jauhari mengatakan yaitu kawasan pegunungan di atas kota Najd sampai daratan Tihamah sampai belakang Makkah, Hijaz dan sekitarnya. Imam Syafi’i bekata: “Tidak boleh meninggalkan shalat Jum’at bagi salah seorang penduduk kota kecuali karena adanya udzur yang memperbolehkan tidak shalat Jum’at, walaupun bertepatan dengan hari raya.”

Imam Nawawi di dalam kitab Raudhatuth Thalibin juga mengatakan:

“Ketika hari raya bersamaan dengan hari Jum’at; penduduk sebuah desa (أهل القرى) yaitu mereka yang mendengar seruan shalat ‘Ied dan mereka tahu bahwa jika mereka membubarkan diri (pulang ke rumah setelah shalat ‘Ied) pasti mereka akan terlambat shalat Jum’at, maka bagi mereka diperkenankan membubarkan diri (meninggalkan masjid dan kembali ke rumah) serta meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, berdasarkan pendapat yang shahih yang termaktub secara nash dalam Qaul Qadim dan Jadid. Adapun pendapat yang menyimpang (syadz) menyatakan tetap wajib bertahan di masjid”.

Ringkasnya, pendapat yang mu’tamad bagi madzhab Syafi’i adalah: shalat Jum’at tidak gugur bagi penduduk suatu wilayah (أَهْل الْبَلَدِ), sedangkan bagi penduduk yang dari desa lain (أَهْل الْقُرَى) ada rukhshah. Artinya, wajib menghadiri shalat Jum’at, namun boleh tidak menghadiri shalat Jum’at bagi penduduk desa atau penduduk kampung yang menghadiri shalat ‘Ied dan keluar dari desanya sebelum waktu zawal (sebelum tergelincirnya matahari menjelang waktu zhuhur)

Adapun pendapat madzhab Hanafi dan madzhab Maliki, juga mewajibkan menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang menyaksikan ‘Ied (baik penduduk kota ataupun orang desa). Sedangkan pendapat madzhab Hanbali, kewajiban menghadiri shalat Jum’at adalah gugur bagi orang yang menghadiri shalat ‘Ied, dan dia wajib melaksanakan shalat zhuhur, namun yang lebih utama adalah menghadiri shalat Jum’at demi keluar dari khilaf (perbedaan pendapat ulama’).

Wallahu a’lam.

B. Pendapat Yang Menyatakan Mendapat Keringan tidak Shalat Jumat, namun Wajib Shalat Zuhur

Berikut kami kutipkan tulisan dari Ustad Farid Nu’man Hasan :

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Banyak yang bertanya tentang ini, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Jika hari raya (Adha dan Fithri) jatuh di hari Jumat.  Apakah shalat Jumat gugur bagi orang yang sudah shalat Id?

ini hadits-haditsnya:

1. Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhuma bertanya kepadanya:

 هل شهدت مع رسول الله عيدين اجتمعا في يوم واحد؟ قال: نعم، قال: كيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: (من شاء أن يصلي فليصل)

Apakah kamu pernah mengalami dua hari raya di hari Jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Zaid menjawab: “Ya”. Muawiyah bertanya lagi: “Apa yang dilakukannya?” Zaid menjawab: “Beliau shalat ‘Id, dan memberikan keringanan atas shalat Jumat. Siapa yang mau melakukannya, silahkan dia shalat.”

(HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi. Al Hakim berkata dalam Al Mustadrak: “Shahih sanadnya tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim, hadits ini memiliki penguat yang sesuai standar Imam Muslim.”  Disepakati Imam Adz Dzahabi. Imam An Nawawi berkata dalam Al Majmu’: isnadnya jayyid.)

2. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون

Telah berkumpul pada hari ini dua hari raya kalian,  maka barang siapa yang mau maka shalat ‘Idnya itu sudah cukup, dan kami akan melakukan shalat Jumat juga.” (HR. Al Hakim, Abu Daus, Ibnu Majah, Al Baihaqi, dll)

3. Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata:

 اجتمع عيدان على عهد رسول الله فصلى بالناس ثم قال: (من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ، ومن شاء أن يتخلف فليتخلف).

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul dua hari raya, lalu Beliau shalat ‘Id  bersama manusia. Kemudian bersabda: “Barang siapa yang mau shalat Jumat silahkan dia shalat Jumat, barangsiapa yang tidak mau mengerjakannya silahkan dia tinggalkan.” (HR. Ibnu Majah)

4. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة ، وإنا مجمعون إن شاء الله

Telah berkumpul dua hari raya pada hari ini, maka siapa yang shalat ‘Id maka itu sudah cukup baginya untuk tidak shalat Jumat, sedangkan kami akan shalat Jumat. (HR. Ibnu Majah, Al Bushiri berkata: isnadnya shahih, para perawinya terpercaya).

5. Hadits mursal, dari Dzakwan bin Shalih, dia berkata:

اجتمع عيدان على عهد رسول الله يوم جمعة ويوم عيد فصلى ثم قام، فخطب الناس، فقال: (قد أصبتم ذكراً وخيراً وإنا مجمعون، فمن أحب أن يجلس فليجلس -أي في بيته- ومن أحب أن يجمع فليجمع).

Telah berkumpul pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam antara hari Junat dan hari raya, Beliau shalat ‘Id lalu bangun dan berkhutbah:

“Kalian telah mendapatkan dzikir dannkebaikan, kami akan melaksanakan shalat Jumat. Barang siapa mau di rumah saja silahkan dia duduo di rumah saja, siapa yang shalat Jumat maka silahkan shalat.”  (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra)

6. Dari Atha bin Abi Rabah Rahimahullah, dia berkata:

صلى بنا ابن الزبير في يوم عيد في يوم جمعة أول النهار ثم رحنا إلى الجمعة فلم يخرج إلينا، فصلينا وحداناً، وكان ابن عباس بالطائف فلما قدمنا ذكرنا ذلك له، فقال : (أصاب السنة).

Ibnuz Zubeir shalat bersama kami pada hari ‘Id di hari Jumat di awal siang (pagi), lalu kami keluar untuk shalat Jumat, tapi Ibnuz Zubeir tidak keluar lalu kami shalat dan dia shalat sendiri. Saat kami berjumpa Ibnu Abbas di Thaif, kami ceritakan itu kepadanya, dan dia berkata: “Dia telah sesuai sunnah.” (HR. Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah dengan lafaz berbeda dan ada tambahan di akhirnya: Ibnuz Zubeir berkata: “Aku lihat Umar bin Al Khathab jika berkumpul dua hari raya, dia melakukan seperti itu”)

7. Dari Abu Ubaid, pelayan Ibnu Azhar, dia berkata:

             شهدت العيدين مع عثمان بن عفان، وكان ذلك يوم الجمعة، فصلى قبل الخطبة ثم خطب، فقال: (يا أيها الناس إن هذا يوم قد اجتمع لكم فيه عيدان، فمن أحب أن ينتظر الجمعة من أهل العوالي فلينتظر، ومن أحب أن يرجع فقد أذنت له).

“Aku mengalami dua hari raya bersama Utsman bin ‘Affan, saat itu di hari Jumat, lalu dia shalat sebelum khutbah, kemudian dia berkhutbah:  “Wahai manusia, sesungguhnya hari ini telah dikumpulkan bagi kalian dua hari raya, barang siapa yang mau menunggu shalat Jumat maka hendaknya dia tunggu, barang siaapa yang ingin pulang maka aku telah mengizinkannya.” (HR. Bukhari)

8. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata saat dua hari raya berkumpul dalam satu hari:

 (من أراد أن يجمع فليجمع، ومن أراد أن يجلس فليجلس). قال سفيان: يعني : يجلس في بيته.

“Barang siapa yang mau shalat jumat hendaknya dia shalat Jumat, dan barang siapa yang ingin duduk saja maka hendaknya dia dusuk saja.” Sufyan berkata: yaitu duduk si rumahnya. (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, juga Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)

Bagaimana menjelaskan riwayat-riwayat di atas? Berikut kami sampaikan penjelasan Al Lajnah Ad Daimah (Dewan Fatwa Kerjaan Saudi Arabia) :

وبناء على هذه الأحاديث المرفوعة إلى النبي ، وعلى هذه الآثار الموقوفة عن عدد من الصحابة ، وعلى ما قرره جمهور أهل العلم في فقهها، فإن اللجنة تبين الأحكام الآتية:

1-من حضر صلاة العيد فيرخص له في عدم حضور صلاة الجمعة، ويصليها ظهراً في وقت الظهر، وإن أخذ بالعزيمة فصلى مع الناس الجمعة فهو أفضل.

2-من لم يحضر صلاة العيد فلا تشمله الرخصة، ولذا فلا يسقط عنه وجوب الجمعة، فيجب عليه السعي إلى المسجد لصلاة الجمعة، فإن لم يوجد عدد تنعقد به صلاة الجمعة صلاها ظهراً.

3- يجب على إمام مسجد الجمعة إقامة صلاة الجمعة ذلك اليوم ليشهدها من شاء شهودها ومن لم يشهد العيد ، إن حضر العدد التي تنعقد به صلاة الجمعة وإلا فتصلى ظهرا.

4- من حضر صلاة العيد وترخص بعدم حضور الجمعة فإنه يصليها ظهراً بعد دخول وقت الظهر.

5- لا يشرع في هذا الوقت الأذان إلا في المساجد التي تقام فيها صلاة الجمعة، فلا يشرع الأذان لصلاة الظهر ذلك اليوم.

6- القول بأن من حضر صلاة العيد تسقط عنه صلاة الجمعة وصلاة الظهر ذلك اليوم قول غير صحيح، ولذا هجره العلماء وحكموا بخطئه وغرابته، لمخالفته السنة وإسقاطه فريضةً من فرائض الله بلا دليل، ولعل قائله لم يبلغه ما في المسألة من السنن والآثار التي رخصت لمن حضر صلاة العيد بعدم حضور صلاة الجمعة، وأنه يجب عليه صلاتها ظهراً .

والله تعالى أعلم. وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Berdasarkan hadits-hadits marfu’ (sampai) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar mauquf dari sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Serta ketetapan mayoritas ulama dalam fiqihnya, maka Al Lajnah memberikan penjelasan sebagai berikut:

  1. Siapa yang shalat Id maka diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tapi wajib baginya shalat zhuhur di waktu zhuhur. Jika dia mau ambil hukum dasar (‘azimah) yaitu shalat Jumat, maka itu lebih utama.
  2. Bagi yang tidak shalat ‘Id, maka dia tidak termasuk yang mendapatkan keringanan, kewajiban shalat Jumat tidak gugur baginya, maka wajib baginya melaksanakan shalat Jumat. Namun, jika dia tidak mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, maka dia shalat zhuhur.
  3. Wajib bagi Imam masjid untuk mendirikan shalat Jumat di hari itu, diperuntukan bagi mereka yang mau menjalankannya dan mereka yang belum shalat ‘Id, itu jika dia mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, jika tidak maka dia shalat zhuhur.
  4. Bagi yang ikut shalat ‘Id diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tp dia shalat zhuhur jika telah masuk waktunya.
  5. Tidak disyariatkan azan zhuhur kecuali di masjid yang diadakan shalat Jumat di dalamnya. Tidak disyariatkan azan zhuhur dihari itu.
  6. Pendapat yang mengatakan bagi yang sudah shalat ‘Id maka gugurlah shalat Jumat dan shalat zhuhur sekaligus, adalah pendapat yang tidak benar. Para ulama telah menilainya keliru dan aneh, dan bertentangan dengan sunnah. Sebab telah menggugurkan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban dari Allah tanpa dalil. Barangkali pihak yang berpendapat seperti itu belum dapat dalilnya baik dari hadits dan atsar, bahwa orang yang sudah shalat ‘Id diberikan keringanan untuk tidak Shalat Jumat namun tetap wajib zhuhur.

Wallahu Ta’ala A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta)

C. Kesimpulan

Bahwasannya pendapat yang mu’tamad dari madzhab syafi’I adalah tidak gugur kewajiban Shalat Jum’at bagi penduduk kota (yang terdapat masjid dilaksanakannya shalat Jum’at), namun untuk penduduk desa mereka boleh kembali/ pulang ke desa mereka jika mereka mau dan tidak kembali (ke kota/masjid) untuk shalat Jum’at.

Madzhab Hanafi dan madzhab Maliki, mewajibkan menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang menyaksikan ‘Ied (baik penduduk kota ataupun orang desa).

Sedangkan pendapat madzhab Hanbali, kewajiban menghadiri shalat Jum’at adalah gugur bagi orang yang menghadiri shalat ‘Ied, dan dia wajib melaksanakan shalat zhuhur.

Namun yang lebih utama adalah menghadiri shalat Jum’at demi keluar dari khilaf (perbedaan pendapat ulama’). Dan Pendapat yang mengatakan bagi yang sudah shalat ‘Id maka gugurlah shalat Jumat dan shalat zhuhur sekaligus, adalah pendapat yang tidak benar.

Wallahu’alam bi shawab.

ABTour – Travel Umroh Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s