Oleh : Ustad Farid Nu’man Hasan

Bolehkah Shalat Di Kendaraan?

Jika memang tidak mungkin untuk turun atau singgah, maka boleh shalat di kendaraan. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

عَنْجَابِرٍ، قَالَ: أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى بَعِيرِهِ ، فَكَلَّمْتُهُ،فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ، وَيُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: ” مَا فَعَلْتَ فِي الَّذِي أَرْسَلْتُكَ، فَإِنَّهُلَمْ يَمْنَعْنِي إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلّى

Dari Jabir bin Abdullah katanya: “Saya diperintahkan nabi untuk datang, saat itu beliau hendak pergi ke Bani Musthaliq. Ketika saya datang beliau sedang shalat di atas kendaraannya. Saya pun berbicara kepadanya dan beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Saya berbicara lagi dan beliau memberi isyarat dengan tangannya, sedangkan bacaan shalat beliau terdengar oleh saya sambil beliau menganggukkan kepala. Setelah beliau selesai shalat beliau bertanya: “Bagaimana tugasmu yang padanya kamu saya utus? Sebenarnya tak ada halangan bagi saya menjawab ucapanmu itu, hanya saja saya sedang shalat.” (HR. Muslim No. 540)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح الصلاة في السفينة والقاطرة والطائرة بدون كراهية حسبما تيسر للمصلي. فعن ابن عمر قال: سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن الصلاة في السفينة؟ قال: (صل فيها قائما إلا أن تخاف الغرق) رواه الدار قطني والحاكم على شرط الشيخين، وعن عبد الله بن أبي عتبة قال: صحبت جابر بن عبد الله وأبا سعيد الخدري وأبا هريرة في سفينة فصلوا قياما في جماعة، أمهم بعضهم وهم يقدرون على الجد، رواه سعيد بن منصور.

“Shalat di kapal laut, kereta, dan pesawat, adalah sah tanpa dimakruhkan sama sekali, jika memang itu yang mungkin dilakukan. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang shalat di kapal laut. Dia menjawab: “Shalatlah di dalamnya dengan berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Al Hakim sesuai syarat Bukhari-Muslim.

Dan dari Abdullah bin Abi Utbah, dia berkata: “Aku pernah menemani Jabir bin Abdullah, Abu Said al Khudri, dan Abu Hurairah di dalam apal laut. Mereka shalat sambil berdiri secara berjamaah dengan diimamai salah seorang dari mereka, padahal mereka masih ada peluang shalat dipantai.” (HR. Said bin Manshur).” (Fiqhus Sunnah, 1/292)

Kebolehan shalat di kendaraan ini dipertegas lagi oleh perbuatan para salaf, baik kalangan sahabat dan murid-murid mereka, baik duduk atau berdiri, seperti yang dibuktikan dalam berbagai riwayat-nya Imam Ibnu Abi Syaibah sebagai berikut:

عن مجاهد قال كنا نغزو مع جنادة بن أبي أميه البحر فكنا نصلي في السفينة قعودا.

Dari Mujahid, dia berkata: “Kami perang bersama Junadah bin Abu Umayyah di lautan, maka kami shalat di kapal laut sambil duduk.”

أنابن سيرين قال خرجت مع أنس إلى بني سيرين في سفينة عظيمة قال فأمنا فصلى بنا فيها جلوسا ركعتين ثم صلى بنا ركعتين أخراوين.

Bahwa Ibnu Sirin berkata: “Aku keluar bersama Anas menuju Bani Sirin dengan kapal besar, dia mengimami kami dan shalat dengan kami di dalamnya dengan cara duduk dua rakaat, kemudian shalat lagi dua raka’at lainnya.”

عن أبي قلابة أنه كان لا يرى بأسا بالصلاة في اسفينة جابسا. حدثنا وكيع عن أبي خزيمة وطاوس قال صل قاعدا.

Dari Abu Qilabah bahwa dia memandang tidak masalah shalat di kapal sambil duduk. Telah bercerita kepada kami Waki’, dari Abu Khuzaimah dan Thawus, dia berkata: Shalatlah dengan cara duduk!

عن ابن سيرين أنه قال في الصلاة في السفينة إن شئت قائما وأن شئت قاعدا والقيام أفضل.

Dari Ibnu Sirin, bahwa dia berkata tentang shalat di kapal laut: “Jika kau mau duduklah, namun berdiri lebih utama.” (Lihat semua dalam Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 2/266-267)

 

Shalat di Kendaraan Tapi Bersebelahan dengan Lawan Jenis?

Bagaimanapun juga usahakan untuk menghindari hal tersebut. Agar tidak terjadi ikhtilat dan sentuhan dengan lawan jenis. Kalau masih bisa dijamak ta’khir ditempat tujuan maka pilihlah jamak ta’khir, sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lakukan saat safarnya. Kalau pun sangat-sangat sulit karena mungkin perjalanan memakan waktu belasan bahkan puluhan jam, sementara kita pun tidak bisa turun, tidak bisa menghindar, maka silahkan shalat tapi usahakan jangan sampai bersentuhan sama sekali dengannya.

Keadaan sangat sulit tersebut, kaidahnya:

الْمَشَقَّةُ تَجْلُبُ التَّيْسِيرَ

Kesulitan membawa pada kemudahan. (Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 75. 1400H-1980M. Darul Kutub Al ‘ilmiyah)

 

Bolehkah berwudhu dengan air mineral?

Air mineral kemasan adalah air yang berasal dari pegunungan atau telaga, yang didestilasi (penyulingan), juga disaring sampai berkali-kali, atau air yang dipanaskan, dan diperuntukkan sebagai minuman. Tapi, air ini bukanlah sirup bukan pula kuah. Dia tetap air alam yang suci dan mensucikan. Tidak masalah berwudhu dengannya.

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

ولا أكره الماء المشمس إلا أن يكره من جهة الطب

Aku tidak memakruhkan air musyammas (air hangat karena terik matahari), melainkan makruhnya itu dari sisi kedokteran saja. (Ma’rifatus Sunan, 23/507)

Imam Ali Al Qari Rahimahullah menjelaskan:

واعلم أن استعمال الماء المشمس مكروه على الأصح من مذهب الشافعي والمختار عند متأخري أصحابه عدم كراهيته وهو مذهب الأئمة الثلاثة والماء المسخن غير مكروه بالإتفاق

Ketahuilah, bahwa menggunakan air masyammas itu makruh menurut yang shahih dari madzhab Syafi’i, namun yang dipilih oleh Syafi’iyah generasi belakangan adalah tidak makruh, dan itulah pendapat para imam yang tiga (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad). Ada pun air rebusan TIDAKLAH MAKRUH menurut kesepakatan ulama. (Mirqah Al Mafatih, 2/422)

 

Jika tidak ada air bolehkah bertayammum di debu yang ada di jok atau dinding mobil?

Jika memang sudah tidak ada air atau sedikit air dan tidak mencukupi, maka boleh baginya bertayammum. Syaikh ‘Adil Al ‘Azaziy Atsabahullah berkata:

إذا لم يجد الماء: سواء كان مُقِيماً أو مسافرًا، وسواء كان مُحدِثًا حدثًاً أصغر أو حدثًاً أكبر.

(Boleh tayammum) jika tidak ditemukan air, sama saja baik dia mukim atau musafir, baik dia berhadats dengan hadats kecil atau besar. (Syaikh ‘Adil Al ‘Azaziy, Mulakhash Ahkam At Tayammum wal Mashi ‘Alal Jabirah)

Dengan apa bertayammum? Yaitu dengan shaa’id, sebagaimana ayat:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Lalu kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan shaa’id yang baik (suci). (QS. An Nisa: 43)

Shaa’id sering diartikan debu saja oleh sebagian ulama, tapi ulama lain mengatakan seluruh yang terdapat di permukaan bumi adalah shaa’id, baik debu, tanah, batu, pasir, kapur, dan tanah yang basah.

Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazairi Rahimahullah berkata tentang tata cara tayammum:

…ثم يضرب بكفيه وجه الارض من تراب او رمل او حجارة او سبخة و نحوها …

“ … kemudian meletakkan tangan di atas permukaan tanah, atau pasir, atau batu, atau tanah berair, atau lain-lainnya… (Minhajul Muslim, Hal. 142)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

يجوز التيمم بالتراب الطاهر وكل ما كان من جنس الارض، كالرمل والحجر والرجص. لقول الله تعالى: (فتيمموا صعيدا طيبا) وقد أجمع أهل اللغة، على أن الصعيد وجه الارض، ترابا كان أو غيره

Dibolehkan bertayammum dengan debu yang suci dan semua yang mencakup bagian dari bumi seperti pasir, dan bebatuan, berdasarkan firman Allah ﷻ : (maka bertayammumlah dengan shaa’id yang suci). Para ahli bahasa telah ijma’ (sepakat) bahwa Shaa’id adalah semua permukaan bumi baik itu debu atau selainnya. (Fiqhus Sunnah, 1/79)

Sifat dari debu adalah berterbangan dan menempel pada semua benda. Dia ada di tanah, dinding, kursi, dan sebagainya. Maka, selama dinding, jok, dan semisalnya, terdapat debu yang berasal dari permukaan bumi, tidak apa-apa bertayammum di situ. Tapi, jika dinding dan kursi itu bersih dari debu tentu tidak boleh.

 

Mana yang lebih utama, tetap berpuasa atau berbuka ketika dalam safar?

Dalam masalah ini, mengambil rukhshah pada dasarnya adalah baik, dan tidak mengambilnya tidak apa-apa. Dengan kata lain jika dia memilih tidak berpuasa maka itu lebih baik sebagaimana perkataan Nabi ﷺ sendiri, sebagaimana riwayat berikut:

Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu, katanya:

يا رسول الله: أجد بي قوة على الصيام في السفر. فهل علي جناح ؟، فقال رسول الله صلى عليه وسلم: “هي رخصة من اللهّ فمن أخذ بها فحسن. ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه “.

“Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya? Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Itu adalah rukhshah dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya. (HR. Muslim No. 1121)

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebut baik bagi yang tidak berpuasa, ada pun bagi yang berpuasa Beliau hanya mengatakan tidak ada salahnya, tidak apa-apa, tidak ada halangan. Tentu kata “baik” dan “tidak ada salahnya”, lebih bagus baik. Ini pada dasarnya, khususnya bagi yang merasa punya kekuatan, masih diberikan izin tidak mengambil rukhshah walau mengambil rukhshah adalah lebih baik.

Namun, masalah ini kenyataannya tidak sederhana. Syariat sangat memperhatikan kondisi masing-masing orang yang tidak sama. Tidak semua musafir punya kekuatan seperti laki-laki di atas (Hamzah bin Amru Al Aslami) . Maka, bagi yang kepayahan dalam safarnya, mengambil rukhshah jauh lebih baik baginya.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن رسول اللّ صلى اللّ عليه وسلم خرج إلى مكة عام الفتح في رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس معه فقيل له يا رسول اللّ إن الناس قد شق عليهم الصيام فدعا بقدح من ماء بعد العصر فشرب والناس ينظرون فأفطر بعض الناس وصام بعض فبلغه أن ناسا صاموا فقال أولئك العصاة

“Bahwa Rasulullah ﷺ keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: Wahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa. Kemudian Beliau meminta segelas air setelah asar, lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya bahwa ada orang yang masih puasa. Maka Beliau bersabda: “Mereka durhaka.” (HR. Muslim No. 1114. An Nasa’i No. 2263. At Tirmidzi No. 710)

Bahkan Nabi ﷺ pernah mengkritik orang yang berpuasa dalam keadaan safar dan orang itu kesusahan karenanya.

كان رسول اللّ صلى اللّ عليه وسلم في سفره. فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه. وقد ضلل عليه. فقال: “ماله ؟” قالوا:رجل صائم. فقال رسول اللّ عليه وسلم: “ليس من البر أن تصوموا في السفر “.

“Rasulullah ﷺ tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah ﷺ bertanya: “Kenapa dia?” Meeka menjawab: “Seseorang yang puasa.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar.” (HR. Muslim No. 1115)

Jika diperhatikan berbagai dalil ini, maka dianjurkan tidak berpuasa ketika dalam safar, apalagi perjalanan diperkirakan melelahkan. Oleh karena itu, para imam hadits mengumpulkan hadits-hadits ini dalam bab tentang anjuran berbuka ketika safar atau dimakruhkannya puasa ketika safar. Contoh: Imam At Tirmidzi membuat Bab Maa Jaa fi Karahiyati Ash Shaum fi As Safar (Bab Tentang makruhnya puasa dalam perjalanan), bahkan Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Shahihnya:

باب ذكر خبر روي عن النبي صلى اللّ عليه وسلم في تسمية الصوم في السفر عصاة من غير ذكر العلة التي أسماهم
بهذا الاسم توهم بعض العلماء أن الصوم في السفر غير جائز لهذا الخبر

“Bab tentang khabar dari Nabi ﷺ tentang penamaan berpuasa saat safar adalah DURHAKA tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah TIDAK BOLEH karena hadits ini.”

Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mampu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu di atas.

Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, katanya:

لا تعب على من صام ولا من أفطر. قد صام رسول اللّ صلى اللّ عليه وسلم، في السفر، وأفطر .

“Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah ﷺ telah berpuasa dalam safar dan juga pernah berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma juga:

سافر رسول اللّ صلى اللّ عليه وسلم في رمضان. فصام حتى بلغ عسفان. ثم دعا بإنء فيه شراب. فشربه نهارا. ليراه
الناس. ثم أفطر. حتى دخل مكة . قال ابن عباس رضي اللّ عنهما: فصام رسول اللّ صلى اللّ عليه وسلم وأفطر. فمن شاء صام، ومن شاء أفطر .

“Rasulullah ﷺ mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai ‘Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah. Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata: Maka Rasulullah ﷺ berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka. (Ibid)

Dengan mentawfiq (memadukan) berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja berbuka atau tidak berpuasa sejak awalnya. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu A’lam

Maka, dalam konteks ‘boleh buka dan boleh puasa’ bagi yang sanggup, lalu manakah yang lebih utama?

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah meringkas sebagai berikut:

فرأى أبو حنيفة، والشافعي، ومالك: أن الصيام أفضل، لمن قوي عليه، والفطر أفضل لمن لا يقوى على الصيام .وقال أحمد: الفطر أفضل .وقال عمر بن عبد العزيز: أفضلهما أيسرهما، فمن يسهل عليه حينئذ، ويشق عليه قضاؤه بعد ذلك، فالصوم في حقه أفضل .وحقق الشوكاني، فرأى أن من كان يشق عليه الصوم، ويضره، وكذلك من كان معرضا عن قبول الرخصة، فالفطر أفضل وكذلك من خاف على نفسه العجب أو الرياء – إذا صام في السفر – فالفطر في حقه أفضل .وما كان من الصيام خاليا عن هذه الامور، فهو أفضل من الافطار

“Menurut Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, puasa adalah lebih utama bagi yang kuat menjalankannya, dan berbuka lebih utama bagi yang tidak kuat. Ahmad mengatakan: berbuka lebih utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata: Yang paling utama dari keduanya adalah yang paling mudah. Barangsiapa yang lebih mudah puasa saat itu, dan mengqadha setelahnya justru berat, maka berpuasa baginya adalah lebih utama.”

Imam Asy Syaukani melakukan penelitian, dia berpendapat bahwa bagi yang berat berpuasa dan membahayakannya, dan juga orang yang tidak mau menerima rukhshah, maka berbuka lebih utama. Demikian juga bagi orang yang khawatir pada dirinya ada ujub dan riya jika puasa dalam perjalanan- maka berbuka lebih utama. Ada pun jika puasanya sama sekali bersih dari perkara ini semua, maka puasa lebih utama. (Fiqhus Sunnah, 1/443. Nailul Authar, 4/225)

Demikian. Wallahu A’lam

ABTour – Travel Umroh Jakarta | Sumber :
Channel Telegram : bit.ly/1Tu7OaC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s